Semarang, 28 Oktober 2026 – Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo Semarang sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia (SNKPK) 2026 pada Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini menjadi wadah akademik untuk memperkuat kolaborasi, berbagi hasil penelitian, serta mengembangkan inovasi di bidang kimia dan pendidikan kimia yang berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.
Mengusung tema “Chemistry for Sustainable Future: Integrasi Nilai Islam, Literasi Kimia dan Inovasi Pendidikan Kimia dalam Mendukung SDGs”, SNKPK 2026 dilaksanakan secara hybrid di Teater Lantai 4, Gedung K.H. Saleh Darat, Rektorat UIN Walisongo Semarang, dan melalui platform Zoom Meeting. Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Prof. Dr. Maya Rahmayanti dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dr. Atik Rahmawati dari UIN Walisongo Semarang. Keduanya membahas kontribusi ilmu kimia dan pendidikan kimia dalam menghadapi tantangan lingkungan melalui pengembangan material inovatif, peningkatan literasi lingkungan, serta integrasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan perlu diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Perkembangan sains dan teknologi diharapkan tidak hanya menghasilkan kemajuan akademik, tetapi juga mampu menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan lingkungan. Melalui penyelenggaraan SNKPK 2026, sivitas akademika didorong untuk terus mengembangkan penelitian dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Sesi pemaparan materi diawali oleh Prof. Dr. Maya Rahmayanti, M.Si dengan topik “Magnetit (Fe₃O₄) sebagai Material Masa Depan: Bridging Chemistry, Innovation, and Sustainability”. Dalam presentasinya, Maya menguraikan potensi magnetit sebagai material fungsional yang dapat dikembangkan untuk berbagai aplikasi teknologi, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan. Pengembangan material berbasis magnetit memungkinkan dilakukannya modifikasi karakteristik material agar memiliki stabilitas dan kinerja sesuai kebutuhan. Salah satu peluang yang dibahas adalah pemanfaatan limbah pangan dan pertanian sebagai sumber bahan baku untuk menghasilkan material bernilai tambah.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa limbah yang sebelumnya dianggap sebagai sisa produksi dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber daya yang lebih produktif. Pemanfaatan bahan secara efisien juga mendukung prinsip ekonomi sirkular dan pengurangan limbah. Maya turut menjelaskan pentingnya modifikasi permukaan magnetit untuk meningkatkan ketahanan material, termasuk melindungi inti magnetik dari kerusakan atau pelarutan pada kondisi lingkungan yang sangat asam. Sifat magnetik material tersebut memungkinkan proses pemisahan setelah penggunaan sehingga membuka peluang pemanfaatan kembali dalam beberapa siklus. Karakteristik ini menjadi salah satu keunggulan potensial magnetit dalam pengembangan adsorben untuk pengolahan pencemar dan upaya mengurangi risiko pencemaran sekunder. Pemaparan tersebut menunjukkan bahwa penelitian kimia material memiliki peran strategis dalam menghasilkan teknologi yang mendukung efisiensi sumber daya, pengelolaan limbah, dan perlindungan lingkungan.

Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Atik Rahmawati, M.Si melalui presentasi bertajuk “Integrasi Nilai Islam, Literasi Lingkungan, dan Pembelajaran Kimia Lingkungan Berkonteks Socio-scientific Issues dalam Mendukung SDGs”. Atik menekankan pentingnya pengembangan pendidikan kimia yang tidak hanya berorientasi pada pemahaman konsep, tetapi juga menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat. Berbagai permasalahan, seperti meningkatnya sampah plastik dan mikroplastik, pencemaran air akibat limbah domestik, penurunan kualitas udara, serta keterbatasan sumber energi, dapat dijadikan konteks untuk membangun pembelajaran kimia yang lebih relevan dan bermakna.
Pendekatan Socio-scientific Issues (SSI) memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengkaji persoalan lingkungan berdasarkan bukti ilmiah dengan mempertimbangkan dimensi sosial, ekonomi, etika, dan kepentingan masyarakat. Pembelajaran berbasis isu sosiosaintifik juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengevaluasi informasi, menyusun argumentasi ilmiah, serta mempertimbangkan konsekuensi dari berbagai alternatif penyelesaian masalah. Aspek penting lainnya adalah integrasi nilai-nilai Islam sebagai landasan dalam membangun kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Konsep manusia sebagai khalifah di bumi menjadi dasar pemahaman bahwa manusia memiliki kewajiban untuk menjaga keseimbangan alam dan menghindari tindakan yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Dalam kesempatan tersebut, Atik juga memperkenalkan hasil penelitiannya mengenai pengembangan model Problem-Based Learning–Socio-scientific Issues (PBL-SSI) yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. Model tersebut menawarkan pendekatan pembelajaran yang menggabungkan pemecahan masalah, analisis isu sosiosaintifik, dan penguatan nilai keislaman. Mahasiswa diarahkan untuk memahami persoalan kimia lingkungan secara komprehensif serta mengembangkan solusi berdasarkan pertimbangan ilmiah dan etis. Integrasi tersebut diharapkan dapat memperkuat literasi lingkungan dan membentuk sikap bertanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan.

SNKPK 2026 tidak hanya menghadirkan pemaparan materi dari narasumber, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk berpartisipasi dalam diskusi ilmiah dan presentasi hasil penelitian. Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan pembahasan mengenai pengembangan material kimia, pengelolaan lingkungan, serta inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan persoalan kehidupan nyata. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi presentasi ilmiah yang diselenggarakan melalui beberapa ruang Zoom Meeting. Peserta dari berbagai perguruan tinggi mempresentasikan hasil penelitian sekaligus memperoleh kesempatan untuk bertukar gagasan dan memperluas jejaring akademik. Forum ini menjadi sarana bagi dosen, peneliti, mahasiswa, dan akademisi untuk mendiseminasikan temuan ilmiah serta memperkuat kontribusi penelitian dalam pengembangan ilmu kimia dan pendidikan kimia.
Penyelenggaraan SNKPK 2026 mencerminkan komitmen Jurusan Kimia FST UIN Walisongo Semarang dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Perpaduan antara riset kimia material, inovasi pendidikan kimia, literasi lingkungan, dan nilai-nilai Islam menjadi salah satu pendekatan untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, Jurusan Kimia UIN Walisongo Semarang berharap dapat terus memperkuat budaya akademik, meningkatkan kualitas penelitian, serta mendorong lahirnya inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. SNKPK 2026 sekaligus menjadi momentum untuk memperluas kerja sama antarakademisi dan memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi ilmiah bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.